Diberitahukan kepada seluruh anggota MGMP untuk hadir dalam kegiatan rapat MGMP seperti undangan dibawah ini :
Undangan guru anggota :
Selasa, 29 Oktober 2013
Senin, 28 Oktober 2013
7 Aplikasi Membuat Tes dan Kuis Online
Bagi guru, sebenarnya tes online atau kuis online bukan saja mengenai kompetensi dalam hal mengerjakan tes online, tetapi juga berkaitan dengan kompetensi dalam membuat tes online. Guru juga harus mengerti esensi dari tes online. Tes online
dipilih karena mampu secara cepat melakukan penilaian dan sekaligus
menampilkan nilai perolehan. Sehingga guru lebih cepat mengetahui
kemampuan siswa dan segera melakukan perbaikan bagi yang belum berhasil
dan memberi penghargaan bagi yang berhasil. Dari sisi siswa, sebenarnya
sudah tidak masalah lagi dengan test online, karena mereka sehari-hari
sudah akrab dengan internet, games online, dan sosial media.
Membuat tes online tidak mahal dan juga tidak sulit. Tidak perlu membeli software yang mahal, cukup komputer dan web browser yang sudah terkoneksi online.
Dari pengalaman penulis, langganan internet rata-rata Rp50.ooo sebulan
sudah cukup untuk keperluan seorang guru secara keseluruhan.
Dari penelusuran penulis, banyak sekali layanan test dan kuis online di internet. Berikut ini adalah 7 aplikasi test dan kuis online yang bisa digunakan oleh guru, siswa, dan sekolah, serta institusi pendidikan yang lain.
1. Google Forms
Google Form merupakan salah satu fasilitas dalam layanan Google Drive,
selain Google Document, Google Spreadsheet, Google Drawing dan Google
Presentation. Google Form atau Google Formulir digunakan untuk
merencanakan acara, membuat survai, memberi siswa kuis, tes online, pendaftaran online
dan mengumpulkan informasi yang lain dengan cara yang mudah dan
efisien. Google Forms secara otomatis terhubung dengan Google
Spreadsheet dengan nama file yang sama. Semua data informasi tanggapan
disimpan pada file Google Spreadsheet tersebut.
Tipe pertanyaan yang tersedia juga banyak, yakni teks
singkat, teks panjang (paragraf), pilihan ganda, kotak pilihan, pilihan
dari daftar yang tersedia, dan jawaban dengan rentang skala tertentu.
Google Forms ini bersifat gratis, dan sudah otomatis tersedia jika kita menggunakan layanan Google Drive.
2. Zoho Challenge
Zoho Challenge merupakan salah satu aplikasi dari penyedia layanan komputasi awan Zoho. Zoho Challenge membuat quiz online lebih powerful.
Zoho Challenge menyediakan berbagai tipe pertanyaan
yang lengkap dan bisa diisi dengan konten multimedia (gambar, suara, dan
video). Pertanyaan juga bisa diimpor dari file soal-soal. Yang menarik,
Zoho Challenge juga menyediakan fasilitas untuk membuat bank soal. Soal
yang ditampilkan pada siswa disusun secara acak, baik soal maupun
pilihannya. Analisis dari jawaban yang masuk juga lengkap dan bermakna.
Zoho Challange tersedia dalam versi gratis dan berbayar.
3. QuizStar
Dengan QuizStart anda dapat mengatur kelas-kelas dan
kuis-kuis, menyertakan file multimedia pada pertanyaan kuis, membuat
kuis dalam berbagai bahasa, dapat diakses dengan komputer yang sudah
terhubung dengan internet, memfasilitasi siswa untuk melihat hasil
tesnya.
4. ThatQuiz
ThatQuiz
adalah layanan tes gratis untuk guru yang dapat
digunakan dikelas-kelas. Dengan ThatQuiz, Guru dapat membuat test
pilihan ganda dan tes matematika. Siswa mengerjakannya di web site.
Setiap hasil nilai siswa segera dilaporkan ke siswa. Guru akan menerima
rekaman lengkap tentang hasil test, nilai dan jawaban yang benar dan
salah.
Layanan ThatQuiz yang utama adalah soal test
matematika (kategori integer, pecahan, konsep dan geometri). Selain itu
bisa juga digunakan untuk membuat tes pelajaran lain (kosa kata,
geografi, dan sains). Fasilitas yang disediakan oleh ThatQuiz mencakup
membuat soal tes menjodohkan dan pilihan ganda, mengadministrasi tes,
membuat- mengedit-menghapus kelas, membuat website
kelas, import-delete-print tes. ThatQuiz juga menyediakan kemampuan download tes untuk perangkat iPad, Android, dan Windows.
5. QuizMEOnline
QuizMeOnline menyediakan fasilatas yang lengkap untuk
keperluan guru dalam mengelola kelas, dan terutama memberi suasana
belajar bagi para siswa. Untuk guru, QuizMEOnline tersedia dalam versi
gratis dan berbayar.
6. Quia Web
Quaia menyediakan layanan agar kita bisa membuat sendiri game pendidikan, kuis, halaman web site
untuk kelas, survey dan masih banyak lagi. Jelajahi juga jutaan
kegiatan dan kuis yang dibuat oleh pendidik dari seluruh dunia.
Apa yang bisa dikerjakan leh Quia Web? Membuat 16
tipe aktivitas belajar dengan mudah dan cepat. Tersedia 10 tipe kuis
(pilihan ganda, benar/salah, isian singkat, uraian). Membuat kelas dan
menganalisa hasil kuis. Jadwal dan kalender online. Upload gambar dan klip suara. Copy
dan modifikasi jutaan aktifitas yang dapat disesuaikkan. Berbagi
akivitas dengan siswa, teman, rekan kerja dan siapapun didunia.
Quia Web menyediakan akses gratis selama 30 hari.
Untuk melanjutkan fasilitas ini, sekolah dikenakan biaya $49 pertahun.
Sedangkan untuk perusahaan $199 pertahun per trainer.
7. QuizEgg
QuizEgg telah
dirancang dan dikembangkan sebagai sebuah aplikasi yang mudah untuk
digunakan dengan menjaga keseimbangan antara kecangihan dan
kesederhanaan.
QuizEgg berbasis Web. Cukup dengan web browser guru dapat membuat quiz, membuat tema, mendistribusikan quiz dan melihat hasil laporan lengkap secara online. Tidak perlu software yang harus download, install atau update. Delapan
tipe pertanyaan. Kedelapan tipe pertanyaan tersebut adalah pilihan
ganda, mencocokan, mengurutkan, mengisi isian, jawaban lebih dari satu,
daftar kata, isian dan benar/salah. Pengaturan kuis. Upload gambar dan file. Profesional, Customizable Theme. Pengaturan publikasi. Laporan yang detail.
Demikian ke-7 aplikasi untuk membuat tes dan kuis online yang bisa dimanfaatkan guru, siswa, sekolah, dan institusi pendidikan lainnya.
Senin, 14 Oktober 2013
Menghitung Luas Segitiga dengan Rumus Heron
Rumus Heron adalah rumus yang dipakai untuk menghitung luas segitiga yang diketahui ketiga sisinya.
Misalkan diketahui segitiga ABC dengan panjang sisi a, b, dan c. Jika s menyatakan setengah keliling segitiga ABC, atau dikatakan s=½(a+b+c) maka luas segitiga tersebut bisa dinyatakan dengan

Rumus tersebut bisa dibuktikan sebagai berikut :

Rumus pythagoras pada segitiga ADC adalah
x2 + t2 = b2 …………………………………………(1)
Rumus pythagoras pada segitiga ADB adalah
(a – x)2 + t2 = c2
a2 – 2ax + x2 + t2 = c2 …………………………..(2)
Dengan mensubstitusi persamaan (1) ke persamaan (2) maka diperoleh
a2 – 2ax + b2 = c2
2ax = a2 + b2 – c2

Dari persamaan (1) diperoleh
t2 = b2 – x2









karena s=½(a+b+c) maka a + b + c = 2s
Jadi


Jika kedua ruas diakarkan maka diperoleh

sehingga

Jadi luas segitiga adalah

c2 = a2 + b2 – 2ab cos C
2ab cos C = a2 + b2 – c2

Luas segitiga bisa dinyatakan sbb :
L = ½ab sin C









dengan mengganti a+b+c=2s maka diperoleh




Misalkan diketahui segitiga ABC dengan panjang sisi a, b, dan c. Jika s menyatakan setengah keliling segitiga ABC, atau dikatakan s=½(a+b+c) maka luas segitiga tersebut bisa dinyatakan dengan
Rumus tersebut bisa dibuktikan sebagai berikut :
Cara pertama
misalkan terdapat sebuah segitiga ABC sebagai berikut dengan alas segitiga adalah a, dan t adalah tinggi segitiga yang ditarik dari titik ARumus pythagoras pada segitiga ADC adalah
x2 + t2 = b2 …………………………………………(1)
Rumus pythagoras pada segitiga ADB adalah
(a – x)2 + t2 = c2
a2 – 2ax + x2 + t2 = c2 …………………………..(2)
Dengan mensubstitusi persamaan (1) ke persamaan (2) maka diperoleh
a2 – 2ax + b2 = c2
2ax = a2 + b2 – c2
Dari persamaan (1) diperoleh
t2 = b2 – x2
karena s=½(a+b+c) maka a + b + c = 2s
Jadi
Jika kedua ruas diakarkan maka diperoleh
sehingga
Jadi luas segitiga adalah
Cara kedua
Menurut aturan cosinus :c2 = a2 + b2 – 2ab cos C
2ab cos C = a2 + b2 – c2
Luas segitiga bisa dinyatakan sbb :
L = ½ab sin C
dengan mengganti a+b+c=2s maka diperoleh
Selasa, 01 Oktober 2013
assessment autentic
A. Pengertian dan Ciri-ciri Assessment Authentic
1. Pengertian
Assessment autentic sering disebut juga assesment performance atau assesmen alternatif namun bila dikaji lebih lanjut ketiganya memiliki arti berbeda Assessment autentic (penilaian otentik) menurut Wiyono dan Sunarni (2009: 41) merupakan menunjukkan siswa-siswa dengan tugas-tugas yang bermakna bagi kehidupan. Authentic Assesment berarti memiliki nilai kesepadanan baik dalam konteks internal maupun konteks eksternal. Konteks internal mengacu pada proses pembelajaran di kelas, dan koteks eksternal mengacu pada kehidupan nyata.Assesment performance atau (penilaian kinerja ) dalam E. Gronlund & Waugh (2009:143) “performance assessment is needed when performance skills are not adequately assessed by paper and pencil test alone.For example, science courses are concerned with laboratory skills, english and foreign-language courses are concerned with communication skills,..” jadi penilaian kinerja diperlukan ketika test tulis tidak cukup untuk mengkaji penilaian keterampilan kinerja melalui proses pembelajaran yang menunjukkan kemampuan peserta didik. Menurut Wiyono& Tumardi (2003:29) penilaian performasi adalah proses mengumpulkan informasi melalui pengamatan secara sistematis untuk mengambil keputusan terhadap siswa. Sedangkan, assesmen alternatif (penilaian alternatif) diartikan sebagai pemanfaatan pendekatan non-tradisional untuk memberi penilaian kinerja atau hasil belajar peserta didik atau mahasiswa.Dalam Wiyono dan Sunarni (2009:41) assesmen alternatif biasanya merupakan lawan dari test-test standar, seperti test pilihan ganda.
Penilaian otentik (authentic assesment) merupakan konsep besar yang meliputi sistem pengukuran hasil belajaar dalam bentuk “produk intelektual yang bernilai, signifikan, dan bermakna”. Bilamana guru menerapkan model penilaian autentik untuk menghimpun informasi mengenai prestasi siswa, maka guru menerapkan berbagai kriteria yang berkenaan dengan ‘ konstruksi ilmu pengetahuan, disiplin dalam melakukan penelitian, serta nilai-nilai yang dapat siswa kuasai sesuai dengan harapan sekolah (Wikipedia, 2010)
Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa authentic assesment yaitu proses penilaian perilaku kinerja mahasiswa secara multidimensional pada situasi nyata. Peserta didik dituntut dapat menunjukkan hasil belajar berupa kemampuan dalam kehidupan nyata, bukan sesuatu yang dibuat-buat atau yang hanya diperoleh di kelas, tetapi dikenal dalam kehidupan sehari-hari.
2. Ciri-ciri Assessment Authentic
Menurut Zainul (2005) ciri-ciri assesment authentic sebagai berikut:
a) Multi kriteria, kinerja peserta didik harus dinilai dengan penilaian lebih dari satu kriteria. Misalkan kemampuan peserta didik dalam berbahasa Inggris harus memiliki dasar penilaian dari aspek aksen, sintaksis, dan kosa kata.
b) Standar kualitas yang spesifik (dalam artian tidak ambigu dan jelas), masing-masing kriteria kinerja peserta didik dapat dinilai secara jelas dan eksplisit dalam memajukan evaluasi kualitas kinerja peserta didik.
c) Adanya judgement penilaian, membutuhkan penilaian yang bersifat manusiawi untuk menilai bagaimana kinerja siswa dapat diterima secara nyata (real)
Sedangkan, menurut Wiyono & Tumardi (2003:31) tugas performasi akan bisa menjadi Assesmen authentic, bila memiliki lima kriteria, yaitu:
a) Tugas bermakna bagi guru maupun siswa
b) Tugas dapat dirancang oleh siswa
c) Tugas membuat siswa menempatkan, menganalisis informasi, dan menggambarkan suatu kesimpulan
d) Tugas menuntut siswa mengkomunikasikan secara jelas
e) Tugas membuat siswa bekerja sama
Assesmen authentic dapat dilakukan melalui pemberian tugas yang bermakna Nitko, 2007 (dalam Wiyono & Sunarni, 2009: 42). Ada enam kriteria yang menunjukkan tugas yang bersifat autentik yaitu sebagai berikut.
- Menuntut siswa menggunakan pengetahuan yang dimiliki untuk menggunakan pengetahuannya dalam mengerjakan tugas.
- Bersifat kompleks dan menuntut siswa menggunakan kombinasi pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang berbeda.
- Menekankan pada respon, performasi , dan produk yang lengkap, adil, halus bahasanya, dan berkualitas tinggi.
- Jelas standar dan kriterianya untuk menilai respon, preformasi, atau produk yang benar.
- Mensimulasi cara yang memungkinkan siswa menggunakan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan tentang dunia nyata.
- Memungkinkan siswa menghadapi tantangan dan peranan seperti peranan dan tugas di lingkungan sekitarnya, baik dirumah maupun di masyarakat.
- Menekankan pada penerapan atau aplikasi, apakah siswa dapat menggunakan pengetahuannya dalam situasi nyata. Dengan kata lain, benar-benar dapat mengungkapkan apa yang diketahui atau dapat dilakukan oleh siswa.
- Berfokus pada asesmen langsung, yakni menelaah target atau sasaran pembelajaran secara langsung.
- Mendorong pemikiran terbuka, yakni siswa mengekspresikan apa yang diketahui secara bebas, bekerja sama, atau mengerjakan proyekdalam periode tertentu, tidak seperti tes pilihan ganda biasa.
A. Manfaat dan Tujuan Assessment Authentic
Menurut Indrakusuma (1993:10) Tujuan-tujuan penilaian pendidikan adalah- Mengetahui potensi seorang murid.
- Mengetahui apa saja yang telah dicapai anak.
- Mengadakan seleksi.
- Mengetahui letak kelemahan-kelemahan atau kesulitan-kesulitan yang di alami peserta didik.
- Memberi bantuan dalam pengelompokan peserta didik untuk tujuan-tujuan tertentu.
- Memotivasi peserta didik dalam belajar
- Memberikan bantuan dalam bimbingan ke arahpemilihan jurusan sekolah, dan selanjutnya kearah pemilihan pekerjaan.
- Menelusuri agar proses pembelajaran anak didik tetap sesuai dengan rencana,
- Mengecek adakah kelemahan-kelemahan yang dialami anak didik dalam proses pembelajaran,
- Mencari dan menemukan hal-hal yang menyebabkan terjadinya kelemahan dan kesalahan dalam proses pembelajaran,
- 4. Menyimpulkan apakah anak didik telah mencapai kompetensi yang ditetapkan atau belum.
Prinsip-prinsip dalam penilaian menurut Indrakusuma (1993:13) dibagi menjadi dua prinsip. Pertama, prinsip pelaksanaan artinya prinsip-prinsip perlu kita ikuti dalam kita melakukan atau mengadakan penilaian. Kedua, prinsip dasar artinya prinsip-prinsip yang perlu kita pegang sebagai pedoman kerja dalam kita melaksanakan penilaian. Jadi yang harus dimiliki dalam prinsip-prinsip assesment authentic adalah:
1) Proses penilaian harus merupakan bagian yang tak terpisahkan dari prosespembelajaran, bukan bagian terpisah dari proses pembelajaran
2) Penilaian harus mencerminkan masalah dunia nyata
3) Penilaian harus menggunakan berbagai ukuran, metoda dan kriteria yang sesuai dengan karakteristik dan esensi pengalaman belajar,
4) Penilaian harus bersifat holistik yang mencakup semua aspek dari tujuan pembelajaran (kognitif, afektif, dan sensori-motorik).
Dapat disimpulkan bahwa Asesmen otentik memiliki beberapa prinsip, antara lain sebagai berikut.
a) Proses penilaian harus merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses
pengukuran hasil belajar.Penilaian harus menggunakan ukuran, metode dan kriteria yang sesuai dengan karakteristik dan esensi pengalaman belajar
b) Penilaian harus mencerminkan masalah dunia nyata dan bukan masalah akademik semata.
C. Langkah- Langkah Authentic Assesment
Wiyono dan Sunarni (2009: 43) menyatakan ada beberapa langkah yang dilakukan dalam melaksanakan asesmen performasi siswa atau melaksanakan asesmen autentik. Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut.
- Tahap pertama adalah menjelaskan performasi yang dinilai.
- Tahap kedua adalah menetapkan tugas yang dapat digunakan untuk mengukur atau menilai ketercapaian tujuan/target/sasaran pembelajaran.
- Tahap ketiga adalah mengembangkan rubik penyekoran atau rubik penilaian.
- Rubik Penyekoran Analitik
Gambar 3.1 Contoh Rubik penyekoran Kemampuan Menulis
No.
|
Komponen
|
Skor
|
1.
|
Faktor tulisan |
1 2 3 4 5
|
2.
|
Isi tulisan | 1 2 3 4 5 |
3.
|
Pengorganisasian tulisan | 1 2 3 4 5 |
4.
|
Tipe/ bentuk tulisan | 1 2 3 4 5 |
5.
|
Kaidah tulisan | 1 2 3 4 5 |
- Rubik Penyekoran Holistik
Gambar 3.2 Contoh Rubik Penyekoran Holistik pada Pertanyaan Essay
Jawaban Essay
|
Kriteria
|
|
- Rubik Penyekoran Holistik Bercatatan
- Rubik Umum
- Rubik Penyekoran Tugas Khusus
F. Contoh Assessment Authentic Penerapan model penilaian otentik berimplikasi pada disain pembelajaran. Menguasai pengetahuan yang dinilai dengan model tes pilihan ganda. Pembelajaran harus dikembangkan sehingga menghasilkan produk belajar dalam bentuk pengetahuan dan ketrampilan menerapkan pengetahuan pada kehidupan nyata. Produk belajar siswa bersifat kontekstual. Berikut contoh-contoh tugas yang termasuk dalam asesmen autentik :
1) Computer adaptive testing (sepanjang tidak berbentuk objektif), yang menuntut peserta didik untuk mengekspresikan diri sehingga dapat menunjukkan tingkat kemampuan yang nyata
2) Group performance assessment, yaitu tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik secara berkelompok
3) Individual performance assessment, yaitu tugas yang harus diselesaikan secara mandiri
4) Interview, yaitu siswa harus merespon pertanyaan lisan dari pengajar
5) Nontraditional test items, yaitu butir soal yang tidak bersifat objektif tetapi merupakan suatu perangkat respon yang mengharuskan peserta didik memilih berdasarkan kriteria yang ditetapkan
6) Observasi, meminta peserta didik melakukan suatu tugas. Selama melaksanakan peserta didik tersebut peserta didik diobservasi baik secara terbuka maupun tertutup.
7) Portofolio, suatu kumpulan hasil karya peserta didik yang disusun berdasarkan urutan waktu maupun urutan kategori kegiatan.
8) Project, exhibition, or demonstration, yaitu penyelesaian tugas-tugas yang kompleks dalam suatu jangka waktu tertentu yang dapat memperlihatkan penguasaan kemampuan sampai pada tingkatan tertentu pula
9) Mencongak menuntut jawaban singkat dari siswa, tetapi bukan memilih jawaban dari sederet kemungkinan
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
- Assessment autentic menghendaki siswa untuk membangun sesuatu secara mandiri daripada memilih respon terhadap stimulus akademik.
- Asesment otentik lebih mengarah pada pengukuran kompetensi dibanding dengan kepribadian.
- Penilaian otentik adalah bentuk asesmen yang dilakukan dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan tugas-tugas yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari.
- Siswa diminta untuk mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan mereka atau kemampuan (kompetensi) di dalam situasi apapun yang sesuai dengan yang mereka hadapi.
- Dengan dukungan kebijakan untuk
mengarahkan sekolah-sekolah unggul menerapkan standar penilaian otentik
yang disinergikan dengan kemajuan penguasaan teknologi informasi sangat
terbuka peluang sekolah untuk lebih kompetitif dalam mempromosikan hasil
belajar dalam bentuk produk intelektual yang kreatif dalam bentuk teks,
gambar, hitungan, peta konsep, video, garis waktu yang menggambarkan
perkembangan. Lebih dari itu, sekolah selalu akan bergerak dari hasil
terbaik yang telah dicapai sebelumnya. Produk belajar siswa pada setiap
tahun dan jenjang disimpan baik sebagai sistem informasi sekolah yang
terbuka untuk diapresiasi publik
DAFTAR PUSTAKA
Wiyono,Bambang B & Tumardi.2003. Evaluasi Pembelajaran. Malang: Penerbit Elang Emas
E. Gronlund, Norman & Waugh, C.Keith. 2009. Assesment of Student Activement. New Jersey: Pearson Education,Inc.
Wiyono,Bambang B & Sunarni. 2009. Evaluasi Program Pendidikan dan Pembelajaran. Malang: Fakultas Ilmu Pendidikan
Indrakusuma,AD. 1993. Evaluasi Pendidikan (Penilaian Hasil-Hasil Belajar). Malang: IKIP
CTL (Contextual Teaching and Learning)
A. Latar
belakang
Ada kecendrungan dewasa ini untuk kembali pada
pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan
alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang
dipelajarinya, bukan memgetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi pada
penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi menggingat jangka pendek
tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka
panjang
Pendekatan kontektual (Contextual Teaching and
Learning /CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara
materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa
membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam
kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan
lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlansung alamiah dalam bentuk
kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari guru
ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil
Dalam kelas kontektual, tugas guru adalah
membantu siswa mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan
dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai
sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota
kelas (siswa). Sesuatu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa
kata guru.Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan
kontekstual
B.
Pemikiran tentang belajar
Pendekatan kontekstual mendasarkan diri pada
kecenderungan pemikiran tentang belajar sebagai berikut.
1. Proses belajar
Belajar tidak hanya sekedar menghafal. Siswa
harus mengkontruksi pengetahuan di benak mereka.
Anak belajar dari mengalami. Anak mencatat
sendiri pola-pola bermakna dari pengetahuan baru, dan bukan diberi begitu saja
oleh guru.
Para ahli sepakat bahwa pengetahuan yang dimiliki
sesorang itu terorganisasi dan mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang
sesuatu persoalan.
Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi
fakta-fakta atau proposisi yang terpisah, tetapi mencerminkan keterampilan yang
dapat diterapkan.
Manusia mempunyai tingkatan yang berbeda dalam
menyikapi situasi baru.
Siswa perlu dibiasakan memecahkan masalah,
menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide.
Proses belajar dapat mengubah struktur otak.
Perubahan struktur otak itu berjalan terus seiring dengan perkembangan
organisasi pengetahuan dan keterampilan sesorang.
2. Transfer Belajar
Siswa belajar dari mengalami sendiri, bukan dari
pemberian orang lain.
Keterampilan dan pengetahuan itu diperluas dari
konteks yang terbatas (sedikit demi sedikit)
Penting bagi siswa tahu untuk apa dia belajar dan
bagaimana ia menggunakan pengetahuan dan keterampilan itu
3. Siswa sebagai Pembelajar
Manusia mempunyai kecenderungan untuk belajar
dalam bidang tertentu, dan seorang anak mempunyai kecenderungan untuk belajar
dengan cepat hal-hal baru.
Strategi belajar itu penting. Anak dengan mudah
mempelajari sesuatu yang baru. Akan tetapi, untuk hal-hal yang sulit, strategi
belajar amat penting.
Peran orang dewasa (guru) membantu menghubungkan
antara yang baru dan yang sudah diketahui.
Tugas guru memfasilitasi agar informasi baru
bermakna, memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan menerapkan ide
mereka sendiri, dan menyadarkan siswa untuk menerapkan strategi mereka sendiri.
4. Pentingnya Lingkungan Belajar
Belajar efektif itu dimulai dari lingkungan
belajar yang berpusat pada siswa. Dari guru akting di depan kelas, siswa menonton
ke siswa akting bekerja dan berkarya, guru mengarahkan.
Pengajaran harus berpusat pada bagaimana cara
siswa menggunakan pengetahuan baru mereka.Strategi belajar lebih dipentingkan
dibandingkan hasilnya.
Umpan balik amat penting bagi siswa, yang berasal
dari proses penilaian yang benar.
Menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja
kelompok itu penting.
C. Hakekat
Pembelajaran Kontekstual
Pembelajarn kontekstual (Contextual Teaching and
learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi
yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat
hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam
kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama
pembelajaran efektif, yakni: konstruktivisme (Constructivism), bertanya
(Questioning), menemukan ( Inquiri), masyarakat belajar (Learning Community),
pemodelan (Modeling), dan penilaian sebenarnya (Authentic Assessment)
D.
Pengertian Pembelajaran Kontekstual
Merupakan suatu proses pendidikan yang holistik
dan bertujuan memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang
dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan
mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural) sehingga siswa
memiliki pengetahuan/ keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan
(ditransfer) dari satu permasalahan /konteks ke permasalahan/ konteks lainnya.
Merupakan konsep belajar yang membantu guru
mengkaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata dan
mendorong pebelajar membuat hubungan antara materi yang diajarkannya dengan
penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat
E.
Perbedaan Pendekatan Kontekstual dengan Pendekatan Tradisional
Kontekstual
Menyandarkan pada pemahaman makna.
Pemilihan informasi berdasarkan kebutuhan siswa.
Siswa terlibat secara aktif dalam proses
pembelajaran.
Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan
nyata/masalah yang disimulasikan.
Selalu mengkaitkan informasi dengan pengetahuan
yang telah dimiliki siswa.
Cenderung mengintegrasikan beberapa bidang.
Siswa menggunakan waktu belajarnya untuk
menemukan, menggali, berdiskusi, berpikir kritis, atau mengerjakan proyek dan
pemecahan masalah (melalui kerja kelompok).
Perilaku dibangun atas kesadaran diri.
Keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman.
Hadiah dari perilaku baik adalah kepuasan diri.
yang bersifat subyektif.
Siswa tidak melakukan hal yang buruk karena sadar
hal tersebut merugikan.
Perilaku baik berdasarkan motivasi intrinsik.
Pembelajaran terjadi di berbagai tempat, konteks
dan setting.
Hasil belajar diukur melalui penerapan penilaian
autentik.
Tradisional
Menyandarkan pada hapalan
Pemilihan informasi lebih banyak ditentukan oleh
guru.
Siswa secara pasif menerima informasi, khususnya
dari guru.
Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis, tidak
bersandar pada realitas kehidupan.
Memberikan tumpukan informasi kepada siswa sampai
saatnya diperlukan.
Cenderung terfokus pada satu bidang (disiplin)
tertentu.
Waktu belajar siswa sebagian besar dipergunakan
untuk mengerjakan buku tugas, mendengar ceramah, dan mengisi latihan (kerja
individual).
Perilaku dibangun atas kebiasaan.
Keterampilan dikembangkan atas dasar latihan.
Hadiah dari perilaku baik adalah pujian atau
nilai rapor.
Siswa tidak melakukan sesuatu yang buruk karena
takut akan hukuman.
Perilaku baik berdasarkan motivasi entrinsik.
Pembelajaran terjadi hanya terjadi di dalam
ruangan kelas.
Hasil belajar diukur melalui kegiatan akademik
dalam bentuk tes/ujian/ulangan.
F.
Penerapan Pendekatan Kontekstual Di Kelas
Pembelajaran Kontekstual dapat diterapkan dalam
kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun
keadaannya. Pendekatan Pembelajaran Kontekstual dalam kelas cukup mudah. Secara
garis besar, langkahnya sebagai berikut ini.
Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar
lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri
pengetahuan dan keterampilan barunya
Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk
semua topik
kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan
bertanya.
Ciptakan masyarakat belajar.
Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran
Lakukan refleksi di akhir pertemuan
Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai
cara
G. Tujuh
Komponen Pembelajaran Kontekstual
1. Konstruktivisme
Membangun pemahaman mereka sendiri dari
pengalaman baru berdasar pada pengetahuan awal.
Pembelajaran harus dikemas menjadi proses
“mengkonstruksi” bukan menerima pengetahuan
2. Inquiry
Proses perpindahan dari pengamatan menjadi
pemahaman.
Siswa belajar menggunakan keterampilan berpikir
kritis
3. Questioning (Bertanya)
Kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan
menilai kemampuan berpikir siswa.
Bagi siswa yang merupakan bagian penting dalam pembelajaran
yang berbasis inquiry
4. Learning Community (Masyarakat Belajar)
Sekelompok orang yang terikat dalam kegiatan
belajar.
Bekerjasama dengan orang lain lebih baik daripada
belajar sendiri.
Tukar pengalaman.
Berbagi ide
5. Modeling (Pemodelan)
Proses penampilan suatu contoh agar orang lain
berpikir, bekerja dan belajar.
Mengerjakan apa yang guru inginkan agar siswa
mengerjakannya
6. Reflection ( Refleksi)
Cara berpikir tentang apa yang telah kita
pelajari.
Mencatat apa yang telah dipelajari.
Membuat jurnal, karya seni, diskusi kelompok
7. Authentic Assessment (Penilaian Yang
Sebenarnya)
Mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa.
Penilaian produk (kinerja).
Tugas-tugas yang relevan dan kontekstual
H.
Karakteristik Pembelajaran Kontekstual
Kerjasama
Saling menunjang
Menyenangkan, tidak membosankan
Belajar dengan bergairah
Pembelajaran terintegrasi
Menggunakan berbagai sumber
Siswa aktif
Sharing dengan teman
Siswa kritis guru kreatif
Dinding dan lorong-lorong penuh dengan hasil
kerja siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor dan lain-lain
Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor tetapi
hasil karya siswa, laporan hasil pratikum, karangan siswa dan lain-lain
I.
Menyusun Rencana Pembelajaran Berbasis Kontekstual
Dalam pembelajaran kontekstual, program
pembelajaran lebih merupakan rencana kegiatan kelas yang dirancang guru, yang
berisi skenario tahap demi tahap tentang apa yang akan dilakukan bersama
siswanya sehubungan dengan topik yang akan dipelajarinya. Dalam program
tercermin tujuan pembelajaran, media untuk mencapai tujuan tersebut, materi
pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran, dan authentic assessmennya.
Dalam konteks itu, program yang dirancang guru
benar-benar rencana pribadi tentang apa yang akan dikerjakannya bersama
siswanya.
Secara umum tidak ada perbedaan mendasar format
antara program pembelajaran konvensional dengan program pembelajaran
kontekstual. Sekali lagi, yang membedakannya hanya pada penekanannya. Program
pembelajaran konvensional lebih menekankan pada deskripsi tujuan yang akan
dicapai (jelas dan operasional), sedangkan program untuk pembelajaran
kontekstual lebih menekankan pada skenario pembelajarannya.
Atas dasar itu, saran pokok dalam penyusunan
rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) berbasis kontekstual adalah sebagai berikut.
Nyatakan kegiatan pertama pembelajarannya, yaitu
sebuah pernyataan kegiatan siswa yang merupakan gabungan antara Standar
Kompetensi, Kompetensi dasar, Materi Pokok dan Pencapaian Hasil Belajar.
Nyatakan tujuan umum pembelajarannya.
Rincilah media untuk mendukung kegiatan itu
Buatlah skenario tahap demi tahap kegiatan siswa
Nyatakan authentic assessmentnya, yaitu dengan
data apa siswa dapat diamati partisipasinya dalam pembelajaran.
Langganan:
Postingan (Atom)